Monday, 13 June 2011

Ilmu Nahu Bahasa Arab

Di dalam cabang ilmu bahasa arab,ada satu ilmu yang sangat penting untuk kita pelajari iaitu ilmu nahu.Lalu kita akan bertanya,apakah nahu itu?

Kalimah "Nahu" jika dibincangkan dari segi bahasa dalam Bahasa Arab membawa pelbagai maksud. Antaranya:
1. Nahu membawa maksud arah. Jika kita mengatakan "zahabtu nahwa fulanin" ia akan membawa maksud "aku telahpun pergi kearah si fulan itu".
2. Nahu membawa maksud seperti atau menyerupai. Jika kita mengatakan "Muhammadun nahwu Aliyyun" ia akan membawa maksud "Muhammad itu seperti Ali atau menyerupainya".

Kalimah "Nahu" jika dibincangkan dari segi istilah yang telah diletakkan oleh Ulama dalam Qawaid Bahasa Arab pula adalah (Suatu ilmu tentang kaedah-kaedah yang mana dengan kaedah-kaedah tersebut diketahui hukum-hukum yang perlu diletakkan di setiap akhir kalimah-kalimah dalam Bahasa Arab dari segi susunannya - yang terdiri daripada i'rab dan bina' dan apa2 yang mengikuti keduanya)

Apa tajuk@skop perbincangan ilmu Nahu?

Skop perbincangan ilmu Nahu adalah berkaitan dengan kalimah-kalimah atau perkataan-perkataan dalam Bahasa Arab. Adapun perkataan-perkataan dalam Bahasa Perancis, Bahasa Inggeris, Bahasa Banjar, Bahasa Siam, Bahasa Jawa dan seluruh bahasa lain yang wujud di alam yang fana ini tidaklah diperbincangkan dalam ilmu Nahu.

Apakah faedahnya mempelajari ilmu Nahu?

1. Menjaga lisan daripada tersalah ketika berkata-kata dalam kalam Bahasa Arab.
2. Memahami Al-Quran Al-Karim dan Al-Hadith As-Syarif dengan kefahaman yang sahih. Yang mana kedua-dua ini adalah sumber usul syariah Islamiah dan diatas kedua-dua sumber inilah terdirinya syariah Islamiah tersebut.

Kepada apakah dinisbahkan ilmu Nahu ini?

Ilmu Nahu ini dinisbahkan ianya salah satu daripada ilmu-ilmu Bahasa Arab.

Siapakah pengasas ilmu Nahu?

Terdapat banyak pendapat yang meriwayatkan tentang siapakah yang dikatakan sebagai pengasas ilmu Nahu. Namun, pendapat yang paling masyhur bagi yang terawal sekali yang mengasaskan ilmu Nahu adalah Abu Aswad Ad-Du'ali setelah diarahkan penyusunan ilmu tersebut oleh Amirul Mukminin Saidina Ali bin Abi Talib Radhiallahu Anhuma.

Apakah hukum mempelajari ilmu Nahu?

Adapun mempelajari ilmu Nahu itu hukumnya adalah fardu kifayah. akan tetapi jika seorang sahaja yang tinggal untuk mempelajarinya maka ianya akan jatuh pada hukum fardu ain pula baginya.
READ MORE- Ilmu Nahu Bahasa Arab

penjelasan makna 'ISTAWA' - (ayat mutasyabih)

Lafaz 'ISTAWA' ini adalah termasuk dlm ayat yg mutasyabih ...
Maka para ulama yg m'punyai keahlian dlm ilmu tafsir samada dari kalangan ulama salaf atau khalaftelah ijma' m'muzakarahkan ayat mutasyabih ini dan membahasnya mjadi dua metode:

  1. tafwidh, maksudnya menyerahkan pemahaman makna tersebut kepada Allah SWT karena khawatir jika di fahami sesuai zahir lafaznya akan merusak aqidah.Ibnu katsir adalah salah satu ulama yang menggunakan metode ini.
  2. dengan cara mentakwil ayat tersebut dengan makna yang ada melalaui dalil yang pasti dari Alquran dan hadits.Rasulullah berdoa kepada Ibnu Abbas dengan doa:
Maknanya: “Ya Allah alimkanlah dia hikmah dan takwil Al quran” H.R Ibnu Majah.(Sebahagian ulamak salaf termasuk Ibnu Abbas mentakwil ayat-ayat mutasyabihah)..


Ada segolongan orang di akhir zaman ini menfitnah para ulama terdahulu(salaf) dan menyebut mereka sebagai ahli bidah dan sesat karena telah mentakwili ayat-ayat sifat ini.maka kelompok yang membid’ahkan ulama terdahulu karena takwil ,sungguh mereka adalah orang –orang yang tidak mengerti(jahil) bagaimana mentakwil dan mereka juga tidak kenal dengan benar dengan ulama terdahulu karena banyak riwayat ta’wil yang datang dari para salaf..contohnya ibn Abbas ra(sahabat dan sepupu Rasulullah saw) sendiri telah mentakwilkan lafaz 'istawa' ini dengan makna 'irtafa'a(tinggi martabat) di ambil dari wazan rafu'a-yarfu'u- rif'atan...

Tersebut dalam kitab tafsir Bughawi:
  • " [ 'an ibni 'Abbas r'anhu wa aksiril mufassiriina (ISTAWA) ai: IRTAFA'A, wa qoola bihi Abu Ubaid wal Farraa'u....]artinya..daripada ibni Abbaas r'anhuma dan kebanyakan ulama tafsir(ISTAWA) TERTINGGI ,berkata dengan ia oleh Abu Ubaid dan al-Farra'...

  • ---[wa qad 'alimta annassalafasshaaleh wa 'ala ra'sihim ,habru haadzihil ummati Abdullahi bni Abbaasi r'anhuma qad awwala katsiiran minas sifaati, wa huwa ahaqqu bi ta'wiili min kaafatil ummati likhtishasi bihi bi fadhli du'aa 'ir rasulillaahi saw lahu bi ta'wiili bi qawlihi

"Allaahumma 'allimhul hikmata,Allaahumma faqqihhu fiddiini , wa allimhut ta'wiila"...]...

artinya : dan sungguh telah engkau tahu bahwasnya salafussaleh dan atas ketua mereka itu ialah yang ter'alim pada ummat ini yakni Abdullah ibn Abbas r'anhuma ,sungguh telah menta'wil ia pada kebanyakan dari sifat-sifat Allah ta'ala dan itulah yang paling benar bagi sekalian ummat karna telah dikhususkan dengan doa Rasulullah saw kepadanya dengan takwil..
" Ya Allah alimkanlah dia akan ilmu hikmah,Ya Allah fahamkan dia akan ilmu agama dan ajarkan dia akan ilmu takwil "

  • ---[wa bidza yu'lamu annat ta'wiila laisa mazmuuman , iz lau kaana kazaalik lamaa da'ar Rasuulu 'alaihis shalaatu was salaamu l'ibni 'ammihi bihi]...artinya : dan dengan ini diketahui akan dia bahwasanya takwil ini tiada dicela (dilarang) karna kalau ia dilarang nescaya tidaklah Rasulullah saw mendoakan dia sedang beliau adalah anak bapa saudaranya....
Jadi jelasnya..as-Salafus-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk

Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -ra- (227- 321 H) berkata: “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk ...kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).

Dan lagi Imam Malik ra berkata : laa yuqaalu 'anhu kaifa ,wa kaifa 'anhu marfuu'un (tidak boleh ditanya 'bagaimana Allah beristiwa' dan Allah bebas dari soalan 'bagaimana')..bagaimana adalah soalan bagi sifat makhluq.antaranya duduk,menetap,bertempat dan berarah.
Imam Qusyairi ra berkata : istawa bermakna Allah memelihara, gagah berkuasa dan mengekalkan. haram meng'tiqad Allah swt duduk di atas arasy kerana ini adalah kepercayaan agama yahudi dan mendustakan firman Allah swt : Fa laa tadhribuu lillahil amsaal(annahlu :74) artinya :oleh itu janganlah kamu mengadakan sesuatu yg sebanding dengan Allah swt.
berkata Sayyiduna Ali ra : innallaha khalaqal arsya izhaaran liqudratihi, wa lam yattakhizhu makaanan lizaatihi (sesungguhnya Allah swt menciptakan arasy untuk menzahirkan qudratNya dan Allah swt tidak menjadikan arasy sebagai tempat bagi zatNya)..mahasuci Allah dari semua itu...

Ada segolongan orang yang menyebut diri mereka sebagai ahli tafwid akan tetapi telah terjerumus dalam kesesatan takwil yang tidak mereka sadari.misalnya disaat mereka mengatakan bahwa Allah berada di atas ‘arsy ,mereka mengatakan tidak boleh... ayat tentang keberadaan Allah di arsy ini di ta’wili.akan tetapi dengan tidak di sadari mereka menjelaskan keberadan Allah di arsy dengan penjelasan bahwa arsy adalah makhluq terbesar(luas dan semua mkhluk yang lain di dalamnya.kemudian mereka mengatakan bahawa Allah swt berada di atas Arsy yg besar itu di tempat yang dinamakan makan ‘adami(tempat yang tidak ada).Lihat dari mana mereka mengatakan ini semua. Itu adalah takwil fasid dan ba’id(takwil salah mereka yang jauh dari kebenaran) dan takwil ahlul bid'ah(dholalah).

Adapun ulama ahli kebenaran, ayat tentang Allah dan arsy,para ahli tafwid menyerahkan pemahaman maknanya kepada Allah swt,adapun ahli ta’wil mengatakan Allah ta'ala menguasai Arsy dan tidaklah salah karena memang Allah swt dzat yang maha kuasa terhadap makhluk terbesarNya(arsy), sebab memang Allah swt Maha kuasa terhadap segala sesuatu..wallahu 'alamu bi haqiqati...

READ MORE- penjelasan makna 'ISTAWA' - (ayat mutasyabih)

Tatkala Tuhan menciptakan manusia

Al-Quran menceritakan peristiwa penciptaan manusia yang pertama oleh Allah SWT, iaitu Adam ‘alaihis-salam  (as), dalam surah Al-Baqarah, ayat 30-38, seperti berikut:

Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada pada malaikat; “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi,” Mereka berkata:  “Adakah Engkau ingin menjadikan di bumi itu makhluk yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah, padahal kami sentiasa bertasbih memuji-Mu dan mensucikan-Mu? ” Tuhan berfirman:”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (30)

Dan Dia pun mengajarkan Adam akan nama-nama seluruhnya, kemudian ditunjukkannya kepada malaikat, lalu Dia berfirman: ”Terangkanlah kepada Aku nama benda-benda ini semuanya, jika kamu golongan yang benar.” (31)
Malaikat berkata: “Mahasuci Engkau, kami tidak punyai ilmu selain apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau jualah yang amat mengetahui lagi bijaksana.” (32)

Allah berfirman: “ Wahai Adam, terangkanlah nama benda-benda ini semua kepada mereka.” Maka setelah Adam menerangkan nama benda-benda itu kepada mereka, Allah berfirman: “Bukankah Aku telah katakan kepada kamu bahawa Aku mengetahui segala rahsia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?” (33)

Dan ketika kami berfirman kepada malaikat: “Tundukkanlah kepada Adam,” lalu mereka semua tunduk memberi hormat, melainkan iblis. Dia enggan dan takbur, dan jadilah dia dari golongan yang kafir. (34)

Dan kami berfirman: “Wahai Adam, tinggallah engkau dan isterimu dalam syurga, dan makanlah makanan apa sahaja yang kamu berdua  suka sepuas-puasnya dan janganlah kamu hampiri pokok itu; (jika kamu hampiri) maka akan jadilah kamu dari golongan orang yang zalim.” (35)

Setelah itu syaitan menggelincirkan mereka berdua dari syurga itu dan menyebabkan mereka dikeluarkan dari nikmat yang mereka berada di dalamnya, dan kami berfirman: “Turunlah kamu, sebahagian kamu menjadi musuh kepada sebahagian yang lain, dan bagi kamu semua disediakan tempat kediaman di bumi, serta mendapat kesenangan hingga ke suatu masa.” (36)

Kemudian Adam menerima dari Tuhannya beberapa kalimat, lalu Allah menerima taubatnya, Sesungguhnya Allah, Dialah yang amat pengampun lagi amat mengasihani. (37) Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari syurga itu! Kemudian jika datang kepada kamu pertunjuk dari-Ku, maka sesiapa yang mengikut pertunjuk-Ku nescaya tidak ada kebimbangan bagi mereka dan mereka pun tidak akan berduka.” (38)

READ MORE- Tatkala Tuhan menciptakan manusia

Surat kepada WAHABI?

(Dah lama aku nak post surat ni, tapi surat ini terlupa simpan kat mana dalam susunan folder, hari ni jumpa balik, dapatlah post kepada dunia, maaf sebab lambat post surat ini.)

Surat kepada Bi

Salam kepada Bi.

Bi,

Ingatkah kamu, Suatu hari selepas kita solat asar di masjid secara berjemaah,(kita sajalah lelaki beriman akhir zaman kononnya..) ketika aku melewati tabung derma masjid(Riaklah tu, derma baki syilingpun nak tulis kat blog) tiba tiba di atas lubang derma terdampar satu kitab ugama, lupa pulak tajuk kitab tu, mungkin kitab Majid Fi Syarh At-Tauhid.(mungkin?)

Akupun membelek belek sambil membaca sepintas lalu kitab tu(ulat bukulah tu) yang kemudiannya muncullah kamu memperkenalkan diri sebagi “Bi” dan mengaku kitab tu Bi yang punya.

Bererapa rangkap perbualan kemudian, maka terdedahlah keinginan kamu untuk mengajak aku menyertai fahaman Wahabi, yang menolak semua Mazhab dan hanya mahu mengikut cara Nabi.
Tapi sayang sepuluh kali sayang Bi, dalam semangat kamu ingin mengikut Nabi, kamu menyesatkan semua Mazhab yang juga berpandukan Hadith Nabi..

Bi,

Aku tahu kamu mengaku cinta pada Nabi, dan nak ikut Nabi 100 peratus kononnya..

Lalu mengeji pengikut Mazhab Syafee yang baca qunut waktu subuh, bidaah kata kamu, dan menuduh mereka masuk neraka..

Lepas tu, kamu juga mencela orang yang duduk senget waktu tahiyat akhir, bidaah kata kamu dan menuduh mereka juga masuk neraka..

Pendek kata, semua golongan mazhab kamu kata masuk neraka, sedang kamu puak wahabi, akan masuk shurga semua..

Wah wah wah, meriahnya kamu bermaharaja di shurga sebab tak ramai orang masuk..

Ok, Bi, kamu mengaku cinta Nabi, jom ikut aku beriktikaf di masjid malam ni macam Nabi selalu buat, jom ikut aku pergi berdakwah dari rumah ke rumah macam Nabi selalu buat.
Eh, mengelak pulak, kata cinta Nabi, sunnah nabi berdakwah dari pintu ke pintu tak nak buat ke?

(macamlah aku mampu buat semua tu, tapi aku azam insyAllah..)

Bi,

Sebelum kamu mengaku cinta Nabi,

Biarlah aku ceritakan sebuah kisah cinta yang paling agung dalam sejarah kewujudan alam.
Iaitu, kisah cinta Allah yang Maha Agung terhadap Nabi Muhammad SAW kekasihNya.

Sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW, Alam ini diliputi oleh kesesatan ummat sejak zaman berzaman, beribu ribu Nabi telah lahir untuk menyelamatkan Ummat, ada yang selamat, tapi sejurus selepas kewafatan para Ambia itu, Ummat kembali menjadi sesat..

Namun, pada satu malam yang hening, satu cahaya terang telah menyinari alam, lalu muncullah beribu ribu tahi bintang yang menamatkan zaman langit di ceroboh syaitan..

Bumi bergembira dengan kelahiran kekasih Allah, gegaran demi gegeran telah berlaku yang menyebabkan istana retak dan menjatuhkan mahkota rajanya, berhala berhala ada yang tumbang menyembah bumi, malahan api sembahan 1000 tahun oleh puak majusi, telah terpadam, tak cukup itu Tasik Sava sembahan zaman berzaman telah hilang di telan bumi.

Peristiwa ini berlaku adalah kerana alam ini sendiri bergembira meraikan kedatangan kekasih Allah, manusia yang paling di cintai Allah dalam sejarah penciptaan manusia..

Bi..

Bersyukurlah kita kepada Allah, kerana kekasih Allah adalah seorang manusia, dan Allah telah buat keputusan bahawa kejayaan semua manusia adalah apabila dapat taat perintah Allah mengikut cara kekasih Nya iaitu Nabi Muhammad s.a.w.

Bi..,

Kerana Cintanya Allah kepada Nabi, maka telah diberikan kepada Nabi satu tanggungjawab yang paling besar dalam sejarah pemberian amanah iaitu Nabi Muhammad SAW akan menjadi ketua para Nabi, dan menjadi Nabi terakhir yang bakal menutup pintu kenabian sebelum menyerahkan Kerja ‘Nubbuah’ kepada Ummat akhir zaman yang bakal menjadi Ummat terbaik dalam sejarah kejadian ummat manusia.

Bi..,

Allah Taala telah tarbiah Nabi sehingga Nabi juga di kenali sebagai Al-quran bergerak, ini bermakna, Al-quran adalah kehendak Allah yang di zahirkan dalam bentuk perkataan(Qalam), manakala Nabi adalah kehendak Allah yang di zahirkan dalam bentuk manusia(cara hidup@sunnah). Apa sahaja perbuatan Nabi di cintai Allah, apa yang Nabi suka itulah yang Allah suka, dan apa yang Nabi benci itulah yang Allah benci,

Bi..,

Tiada Nabi sebelum Nabi Muhhammad yang di jemput khas berjumpa Allah secra live ketika hayat masing masing, pernah terjadi dalam sejarah, ketika Nabi Musa bertemu dengan Allah secara ‘audio’, Allah perintahkan Nabi musa membuka kasut, sedangkan kekasih Allah ketika bertemu Allah secara bersekemuka, Nabi Muhammad SAW tidak perlu membuka kasut, kenapa? Kerana (mengikut Buzamana) debu debu yang melekat pada kasut Nabi juga di cintai Allah..

Bi..,

Nabi Muhammad SAW juga amat mencintai Allah, lalu menyeru manusia mencintai Allah siang dan malam, sehingga terkorban sahabat sahabatnya, di seksa dan dibunuh, sedang Baginda sendiri terluka dan tercedera, sehingga darah suci baginda telah mengalir bersama air mata pengorbanan demi membuktikan cinta kepada Allah, namun dalam kesusahan mempertahan cinta itu, Nabi masih bertajjud sampai bengkak akan kaki baginda, semuanya hanya kerana ingin berterima kasih kepada Allah..

Bi, ..

Akhirnya sebagai manusia, maka Nabi Muhammad SAW juga akan mati, dan telahpun mati, yang tinggal hanyalah kenangan namun kenangan ini bukan ditinggalkan dalam bentuk sejarah semata mata..

Bi..,

Hanya Allah yang mampu mengekalkan amalan kekasihNya sampai hari kiamat, maka hari ini, segala sunnah Kekasih Allah akan terus diikuti oleh sebahagian umat akhir zaman yang terpilih, dari sekecil kecil sunnah, sehinggalah sebesar besar sunnah..

Bi..,

Hari ini kita boleh melihat akan amalan dari setiap sunnah Nabi yang mana telah muncul dalam pelbagai mazhab yang kita nampak berbeza cara Ibadat mereka, tapi setiap dari mereka mempunyai dalil dan hadith tersendiri yang membenarkan amal Ibadat meraka,

Sebagai contoh,: mazhab kita sendiri, waktu tahiyat akhir duduk ‘senget’ macam orang sakit, sebenarnya memang waktu Nabi sakit, Nabi solat sebegitu, dan Allah kekalkan duduk Nabi sakit tu dalam mazhab Shafee, kalau mazhab lain, duduk tahiyat akhir macam duduk tahiyat awal.

Begitu juga solat subuh sambil baca qunut, Nabi pernah baca qunut dalam sembahyang, biarlah Mazhab syafee hendak membaca qunut setiap subuh kerana hanya Allah yang dapat mengekalkan amalan kekasihNya pada manusia yang terpilih..

Banyak lagi contoh Bi, , kalau kamu pergi Mekah, kamu boleh lihat bermacam-macam cara orang solat, orang ambil wudhu dan sebagainya, sebenarnya semua itu adalah dari amalan Kekasih Allah sendiri,: ada waktu Nabi ambil wudhu basuh semua kepala, ada waktu hanya menyapu kepala, tapi ada hikmahnya, lalu Allah mahu amal itu kekal, maka sekarang kita boleh lihat sendiri 4 mazhab telah wujud.

Jadi wujudnya mazhab yang berbeza hari ini, adalah lambang cinta agung Allah kepada kekasihnYA, atau dalam bahsa orang muda:, wujudnya 4 mazhab yang besar itu, adalah sebagai ‘tugu cinta’Nya Allah pada Nabi Muhammad SAW..

Tiada seorangpun Nabi lain yang sunnah mereka kekal dalam mazhab tidak seperti agungnya sunnah Nabi Muhammad SAW.

Bi..,

Hanya Allah SWT sahaja Pecinta yang mampu mengekalkan seluruh amalan kekasihNYa sepanjang zaman melalui 4 mazhab yang besar…..meredahi 4 musim, merentasi 4 benua, menguasai 4 penjuru alam, sepanjang zaman, sehingga hujung nyawa dunia…

Bi..,

Jika kamu mengembara ke seluruh dunia, maka akan terzahirlah amalan kekasih Allah ini di setiap sempadan Negara dan terimbaulah akan kamu bagaimana hebatnya cinta Allah kepada Nabi dan bagaimana hebatnya Allah yang mampu mengekalkan amalan kekasihNya sehingga ke hari ini..

Bi, janganlah kamu membabi buta menyesatkan golongan mazhab, biarlah cinta Allah kepada nabi terzahir di situ..

Dan ketahuilah, bahawa Al-quran akan di jaga oleh Allah sepanjang zaman, tidak akan hilang, walau apapun cubaan orang kafir untuk memusnahkannya, tapi demi menjaga amalan kekasih-Nya(sunnah) Allah telah menyerahkan tanggung jawab itu ke atas bahu kita ummat akhir zaman untuk menghidupkan setiap sunnah Nabi, yang mana Allah akan memberikan ganjaran 100 pahala mati syahid bagi setiap satu Sunnah Nabi kamu hidupkan..

Nikmat mana lagi yang kamu dustkan?

Bi..,

Akhir kata, apabila di dunia ini sudah tidak ada lagi amalan kekasih Allah, apabila sudah tidak ada lagi orang islam, maka Allah akan matikan semua malaikat, Allah akan musnahkan segala-galanya…, Masjid, Kaabah, gunung, langit dan bumi semuanya musnah…HANCUR BERKECAI seperti bulu berhamburan….!

Dunia akan kiamat, apabila sudah tiada lagi amalan kekasih Allah di alam ini..

Sebagai penutup buatmu Bi..

Khalifah Abbasiah, Harun al Rahid pernah menyatakan hasratnya untuk meletakkan satu kitab Muaatta yang di karang Imam malik di dalam kaabah dan mengistiharkan wajib setiap ummat islam beramal dengannya, tapi tidak di persetujui oleh Imam Malik sendiri, dengan berkata bahawa semua sahabat betul dalam perbezaan pendapat di antara mereka, Janganlah melarang dan membingungkan orang ramai,

Maka, Bi..

Ingatlah pesan aku baik baik:

Janganlah melarang dan membingungkan orang ramai,

Hazrat Umar bin Abdul Aziz yang juga di panggil Ummar kedua, yang menguasai 2/3 dunia telah menulis surat kepada wakil rakyatnya dengan berkata:

”Setiap kaum hendaklah beramal sejajar dengan fatwa ulamak ulamak mereka.”

Maka Bi,

Biarlah ummat islam di seluruh dunia dengan 4 mazhab itu, tak perlu perasan pandai..

Cuba fikir, akan kenapa Imam Bukhari, dan segala muhaddisin yang hebat hebat tidak membuat mazhab mereka sendiri?

Ini adalah kerana , mazhab yang empat itu, sudai mempuyai tunjang yang kukuh, lengkap, terperinci dan menyeluruh.

Fahamilah 4 mazhab dan fahamilah kenapa ada 4 mazhab.., setelah sekian lama...hingga sekarang..

Kerana di situlah terzahirnya kenangan cinta Allah kepada Nabi Muhamamd SAW.
Hanya Allah SWT sahaja Pecinta yang mampu mengekalkan seluruh amalan kekasihNYa sepanjang zaman melalui 4 mazhab yang besar…..meredahi 4 musim, merentasi 4 benua, menguasai 4 penjuru alam, sepanjang zaman, sehingga hujung nyawa dunia…

Bi..

Jangan jadi babi, err, maksud aku, jangan membabi buta dalam menghukum.

Sekian.

Wasalam.

Ps: Aku dah hantar surat kepada ‘Bi’ yang berfahaman ‘Wahabi’, lepas ni aku nak hantar surat kepada ‘Ah’ yang berfaham ‘Syiah’ pula, woha!
READ MORE- Surat kepada WAHABI?

Bahasa Arab Melalui Al-Quran

Penggunaan al-Quran untuk tujuan mengajar ilmu bahasa Arab terutama nahu (grammar) itu sendiri telah mendapat perhatian yang utama oleh para nuhat (ahli-ahli nahu) sejak zaman berzaman. Bermula daripada Abu Aswad al-Duali yang telah menyahut seruan saidina Ali K.W dalam meletakkan asas ilmu nahu setelah beliau mendengar adanya lahn (kesalahan daripada segi nahu) dalam pembacaan al-Quran. 

Sibaweih (180H) dalam bukunya ‘al-Kitab’ juga menggunakan dalil ayat-ayat al-Quran sebagai bukti kepada kaedah-kaedah nahu. Penggunaan dalil daripada ayat-ayat al-Quran untuk membuktikan ketepatan kaedah nahu dipanggil dengan istilah “syahid al-quran”. Syahid al-quran yang pertama digunakan oleh Sibawieh di dalam kitabnya adalah ketika membincangkan tentang kalimah iaitu tajuk pertama tentang ilmu nahu. 

Sekiranya dilihat pula Ibnu Hisham (761H) maka beliau juga menggunakan syahid al-Quran di dalam menghuraikan kaedah-kaedah nahu bahasa Arab. Di dalam bukunya “syarh qatr al-nada wa bal al-sada” penggunaanya (syahid al-quran) yang pertama adalah dalam bab al-kalimah apabila beliau membawa ayat al-quran sebagai dalil kepada jumlah mufidah. 

Begitu juga Ibnu ‘Aqil (769H) yang juga tidak ketinggalan dalam menggunakan syahid al-Quran ini di dalam menghuraikan kaedah-kaedah nahu. Syahid al-Quran yang pertama di dalam kitabnya “syarh ibn ‘Aqil” ialah apabila beliau memperkatakan juga tentang al-kalam (iaitu al-kalimah). 

Jikalau ada pihak yang mengatakan Ibnu Hisham dan Ibnu ‘Aqil kedua-duanya adalah “syarih” (orang yang melakukan huraian) kepada matan Ibnu Malik (alfiah) yang bersifat “nazam atau syair” maka sepatutnya lah mereka menggunakan al-Quran, maka kita lihat pula kepada ulama-ulama nahu yang melakukan huraian kepada matan al-ajrumiyah (bukan syair) yang juga menggunakan syahid al-Quran di dalam menghuraikan kaedah-kaedah nahu. 

Kita ambil contoh al-Syeikh muhammad Ab al-Bariy (1298H) yang telah menulis nota tentang matan bekenaan menggunakan syahid al-Quran pada permulaan bab nahu lagi iaitu bab al-ikrab dan al-bina’ manakala al-syarih bagi matan al-ajrumiyyah pula iaitu al-Syiekh muhammad al-Ra’aini menggunakan syahid al-Quran, dan syahidnya yang pertama datang dari bab al-kalam. 

Sekiranya kita perhatikan ulama-ulama nahu terdahulu, mereka sangat berpegang teguh dengan al-quran di dalam pengajaran mereka tentang kaedah-kaedah nahu. Sehinggakan pada permulaan bab lagi mereka telah menggunakan al-Quran sebagai bukti atau dalil ketepatan kaedah yang dibawa. 

Tetapi apabila kita merujuk kepada kitab-kitab pengajaran nahu yang ditulis oleh ulama-ulama kini, maka kita dapati sebahagian daripada mereka menggunakan al-quran dan sebahagian yang lain pula tidak menggunakan al-quran langsung di dalam menerangkan kaedah-kaedah nahu. 

Di antara kitab-kitab nahu yang masih menggunakan al-quran sebagai bukti ketepatan kaedah nahu adalah seperti kitab ‘jami al-durus’ yang dikarang oleh al-Ghalayini (1912), kitab ‘al-tatbiq al-nahwi’ karangan Dr. Abduh al-Rajihi (1988), dan juga kitab terbaru yang mengemukakan huraian (syarh) kepada matan al-ajrumiyyah yang telah dilakukan oleh Muhammad Mahyu al-Din Ab Hamid yang dinamakan dengan ‘al-tuhfatu al-saniyyah’ juga tidak ketinggalan menggunakan syahid al-quran sebagai hujjah membuktikan ketepatan nahu bahasa Arab. 

Manakala kitab-kitab yang tidak menggunakan syahid al-quran di dalam menghuraikan kaedah-kaedah nahu adalah seperti kitab ‘al-nahwu al-wadhih’ tidak menggunakan syahid al-quran pada kedua-dua jilid (untuk marhalah ibtidaiyah dan thanawiyyah). Begitu juga buku-buku ringkasan nahu bahasa Arab yang digunakan di sekolah-sekolah juga tidak menggunakan syahid al-Quran ini. 

Kesimpulan daripada kajian yang sedikit ini (jika boleh dikatakan) bahawa terdapat kaitan yang jelas di antara menggunakan syahid al-quran dalam kaedah pengajaran bahasa Arab dengan penguasaan ilmu bahasa Arab itu sendiri dalam kalangan pelajar-pelajar. Maksudnya, kemungkinan kesukaran pelajar-pelajar dan kelemahan mereka menguasai ilmu bahasa Arab kerana mereka kini telah jauh daripada al-Quran itu sendiri yang mana suatu ketika dahulu didekatkan oleh guru mereka melalui kaedah penggunaan syahid al-Quran. 

Hal ini demikian kerana kaitan al-quran itu sendiri dengan bahasa Arab adalah diibaratkan seperti isi dengan kuku. Tidak sempurnalah jari yang tidak mempunyai kuku tetapi hanya ada isinya sahaja dan begitulah sebaliknya. 

Jadi usaha untuk memantapkan kembali penguasaan bahasa Arab dalam kalangan pelajar adalah dengan mengembalikan mereka kepada kaedah sebagaimana yang diasaskan oleh ulama terdahulu, di antaranya adalah menggunakan al-Quran di dalam pengajaran nahu bahasa Arab itu sendiri. 

Sesungguhnya mukjizat al-quran yang maha suci itu memungkinkan pelajar mudah faham tentang kaedah-kaedah nahu yang nampak seakan-akan terlalu susah kini. Mudah-mudahan usaha mengembalikan al-quran bersama kaedah pengajaran nahu akan memantapkan kembali penguasaan nahu dan bahasa Arab itu sendiri. 
READ MORE- Bahasa Arab Melalui Al-Quran

CATATAN POPULAR